Social Icons

Pages

Senin, 24 Juni 2013

Memahami siswa, untuk keberhasilan KBM



Memahami siswa, untuk keberhasilan KBM
Oleh: Imam Naufi Almudzofar
Anak didik atau siswa merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan, disamping pendidik (guru) dan tujuan pendidikan. Kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak akan terlaksana tanpa adanya siswa. Untuk menentukan tingkat keberhasilan KBM pun, kemampuan siswalah yang menjadi tolak ukurnya.
Inilah yang membuat para guru seringkali berfikir pragmatis. Hasil akhir berupa nilai menjadi patokan kemampuan siswa. Siswa yang mendapat nilai tinggi langsung dicap sebagai siswa pandai. Mereka yang nilainya kurang, seketika mendapat predikat bodoh. Padahal ada banyak faktor dari siswa sendiri yang menentukan keberhasilan dalam KBM selain kecerdasan (Emotional, Spiritual dan Intelligence Quotients). Diantaranya adalah latar belakang masyarakat dan keluarga, kesehatan badan, sifat kepribadian, minat belajar, dsb. Faktor-faktor inilah yang perlu dipahami setiap guru dengan mengenal setiap siswa lebih dekat. Ada berbagai cara untuk merealisasikannya, bisa dengan diskusi dengan orang tua, percakapan-percakapan atau wawancara informal, observasi, siswa disuruh mengisi angket ataupun diskusi informal dengan siswa. Dan masih banyak cara kreatif lainnya yang bisa dikembangkan oleh masing-masing guru.
Dalam kenyataannya, kebanyakan guru lebih dekat dengan siswanya yang aktif dan bersemangat dalam KBM. Siswa yang cenderung bermalas-malasan diperlakukan biasa-biasa saja. Hal seperti inilah yang harus dirubah. Siswa yang kurang perhatian terhadap pelajaranlah yang seharusnya memperoleh perlakuan khusus dan istimewa. Dengan memahami semua siswa yang ada di kelas, guru dapat menentukan dengan mudah metode KBM yang tepat dan bagaimana memperlakukan setiap siswa. Tentu saja dengan berpedoman pada pemetaan keadaan yang diperoleh dari hasil proses memahami tiap siswa.
Selain itu dapat pula diketahui potensi-potensi yang dimiliki setiap siswa. Perlu diketahui bahwa setiap siswa mempunyai potensi masing-masing. Seringkali potensi itu tidak berkembang karena ketidaktahuhan para guru. Dengan memahami siswa, tiap guru dapat saling mengkoordinasikan guna mewadahi perkembangan potensi dari tiap siswa.   
Harapannya dalam proses KBM, semua siswa dapat berpartisipasi aktif. Tidak ada yang merasa dianak tirikan. Selain itu guru dapat menciptakan KBM yang menyenangkan karena sesuai dengan kondisi dan situasi siswanya. Dengan begitu, nilai sebagai ukuran keberhasilan KBM dapat merata atau setidaknya tidak ada ketimpangan yang jauh antar siswa. Yang itu menunjukkan keberhasilan KBM.

Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum,
 Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text

Visit my FB :)

https://www.facebook.com/imam.almudzofar