Memahami
siswa, untuk keberhasilan KBM
Oleh:
Imam Naufi Almudzofar
Anak didik atau siswa
merupakan salah satu komponen penting dalam proses pendidikan, disamping
pendidik (guru) dan tujuan pendidikan. Kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak
akan terlaksana tanpa adanya siswa. Untuk menentukan tingkat keberhasilan KBM
pun, kemampuan siswalah yang menjadi tolak ukurnya.
Inilah
yang membuat para guru seringkali berfikir pragmatis. Hasil akhir berupa nilai
menjadi patokan kemampuan siswa. Siswa yang mendapat nilai tinggi langsung
dicap sebagai siswa pandai. Mereka
yang nilainya kurang, seketika mendapat predikat bodoh. Padahal ada banyak faktor dari siswa sendiri yang menentukan
keberhasilan dalam KBM selain kecerdasan
(Emotional, Spiritual dan Intelligence Quotients). Diantaranya adalah latar belakang masyarakat dan keluarga, kesehatan
badan, sifat kepribadian, minat belajar, dsb.
Faktor-faktor inilah yang perlu dipahami setiap guru dengan mengenal setiap
siswa lebih dekat. Ada berbagai cara untuk merealisasikannya, bisa dengan diskusi dengan orang tua, percakapan-percakapan atau
wawancara informal, observasi, siswa disuruh mengisi angket ataupun diskusi informal dengan siswa. Dan masih banyak cara kreatif lainnya
yang bisa dikembangkan oleh masing-masing guru.
Dalam kenyataannya, kebanyakan guru lebih dekat dengan
siswanya yang aktif dan bersemangat dalam KBM. Siswa yang
cenderung bermalas-malasan diperlakukan biasa-biasa saja. Hal seperti inilah
yang harus dirubah. Siswa yang kurang perhatian terhadap pelajaranlah yang
seharusnya memperoleh perlakuan khusus dan istimewa. Dengan memahami semua
siswa yang ada di kelas, guru dapat menentukan dengan mudah metode KBM yang
tepat dan bagaimana memperlakukan setiap siswa. Tentu saja dengan berpedoman
pada pemetaan keadaan yang diperoleh dari hasil proses memahami tiap siswa.
Selain itu dapat pula diketahui potensi-potensi yang
dimiliki setiap siswa. Perlu diketahui bahwa setiap siswa mempunyai potensi
masing-masing. Seringkali potensi
itu tidak berkembang karena ketidaktahuhan para guru. Dengan
memahami siswa, tiap guru dapat saling mengkoordinasikan guna mewadahi
perkembangan potensi dari tiap siswa.
Harapannya dalam proses KBM, semua siswa dapat
berpartisipasi aktif. Tidak ada yang merasa dianak tirikan. Selain itu guru
dapat menciptakan KBM yang menyenangkan karena sesuai dengan kondisi dan
situasi siswanya. Dengan begitu, nilai sebagai ukuran keberhasilan KBM dapat
merata atau setidaknya tidak ada ketimpangan yang jauh antar siswa. Yang itu
menunjukkan keberhasilan KBM.
Mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan dan Hukum,
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar