Di negara demokrasi seperti Indonesia,
lembaga legislatif (DPR, DPD, DPRD) sangatlah memegang peran yang penting.
Merekalah orang-orang yang membuat kebijakan. Artinya, lembaga legislatif menjadi
penghubung antara rakyat dengan pemerintah. Sehingga nasib rakyatpun ada di
tangan mereka.
Namun, lihatlah yang terjadi di Indonesia.
Orang-orang yang disebut sebagai wakil rakyat seolah lupa akan tugasnya. Masih
dijumpai produk legislatif yang tidak pro rakyat. Dapat dilihat juga di media
saat berlangsungnya sidang paripurna. Banyak kursi yang lowong, karena banyak
anggota DPR yang bolos. Yang hadirpun ada yang terlelap di kursi nyamannya. Di
tingkat daerah, sami mawon. Saat
rapat membahas RAPBD Sleman misalnya. Sidang sepenting itu hanya dihadiri oleh
30 anggota dewan yang sebagian juga bolos sebelum ditutup (Harian Jogja, 10
September 2013). Bahkan Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jogja
pada 2 Mei lalu menjatuhi hukuman penjara 1 hingga 1,5 tahun kepada 32 mantan
Anggota DPRD Gunungkidul periode 1999-2004. 32 mantan anggota Dewan tersebut
terbukti melakukan tindak pidana korupsi APBD selama 1999-2004 dan merugikan
negara sebesar Rp3,05 Miliar (Harian Jogja, 2 Mei 2013).
Memang, masih sangat banyak anggota
dewan yang bekerja sesuai amanah, memperjuangkan hak rakyat dalam kebijakan
yang dibuat serta bebas dari korupsi. Namun, oknum wakil rakyat yang tersandung
“kasus kotor” lebih santer terdengar dibanding mereka yang berprestasi. Sehingga
wajar jika rakyat saat ini memiliki persepsi bahwa lembaga legislatif diisi
oleh “tikus berdasi”. Tapi, tidak bisa murni oknum wakil rakyat tersebut yang
disalahkan. Keberadaan mereka tak lepas dari suara yang diberikan oleh
mayoritas penduduk Indonesia. Jadi, rakyatpun mempunyai andil di balik
semrawutnya tingkah oknum anggota lembaga legislatif.
Tentunya rakyat tidak ingin dikecewakan
berulang-ulang. Dari survey yang dilakukan Harian Jogja dengan 200 responden,
73% diantaranya tidak mengenal caleg. Logikanya, bagaimana bisa memilih wakil
yang tepat jika tidak tahu profil dan latar belakang orang tersebut? KPU
mungkin sudah berusaha meminimalisir hal ini dengan mengunggah situs resminya
berkaitan profil caleg . Namun, perlu diingat tidak semua orang di Indonesia
bisa trampil dalam teknologi informasi.
Hemat penulis cara ini belum maksimal
dalam memberikan gambaran mengenai calon-calon wakil rakyat. Memberdayakan media
massa (TV, radio, koran) bisa lebih efektif. Dengan media massa ini pula dapat
dipublikasikan mana saja oknum anggota dewan yang sering mangkir dalam
menjalankan tugas. Mengadakan sosialisasi di tingkat kelurahan juga bisa
menjadi alternatif dalam menanggapi masalah ini. Dengan begitu, semua rakyat
harapannya dapat bersama-sama mendalami kriteria calon wakil rakyat sehingga
tidak salah pilih.
Survey tersebut juga memberi fakta bahwa
75 responden akan menerima uang dari caleg. Inilah penyakit dari demokrasi saat
ini. Ini membuktikan bahwa rakyat masih berpikir jangka pendek. Seolah kasus
yang terjadi tidak memberikan pelajaran bahwasannya wakil rakyat yang bermain money politic saat terpilih tentu ada
indikasi untuk membalikkan modal yang dikeluarkan. Inilah yang menjadi
tantangan kita bersama jika ingin benar-benar memajukan negeri ini. Diantara
cara yang dapat di lakukan adalah dengan memberikan pemahaman politik kepada
setiap warga negara Indonesia. Maka setiap lapisan masyarakat diharapkan dapat
berpartisipasi untuk bersama-sama menjadi pemilih yang cerdas. Golongan yang
faham masalah ini seperti mahasiswa, kelas menengah, organisasi masyarakat
dituntut untuk bisa mengajak masyarakat yang belum faham. Bisa dilakukan dengan
sarasehan, sosialisasi atau dengan hal menarik lainnya. Harapannya saat pemilu
nanti, masyarakat memberikan suaranya kepada calon dengan melihat kualitas dan
moral baiknya bukan melihat berapa uang yang diberikan.
PEMILU legislatif tinggal hitungan
bulan. Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Jadi pemerintahan periode selanjutnya juga kita –warga negara Indonesia- yang
menentukan. Apakah mengamanahkan wakil bermental koruptor atau memberikan suara
kita pada orang yang tepat. Perlu dipahami bahwa pemimpin itu cermin dari yang
dipimpin. Maka, untuk mendapat pemimpin yang bersih, rakyat juga harus bersih.
Rakyat harus bisa menolak dan mengawasi adanya praktek money politic. Mari menjadi pemilih yang cerdas!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar